Sudahkah Anda Memberi Kabar

Senin, 28 Maret 2011

MENYINGKAP AKUNTABILITAS NILAI KEARIFAN BUDAYA JAWA

1. Latar Belakang

Kemunculan akuntansi yang dipraktikan di suatu tempat (wilayah) selalu dikonstruksi dan dikembangkan secara sengaja untuk mencapai tujuan sosial tertentu. Dalam kenyataannya faktor-faktor lingkungan (misal sosial, budaya, ekonomi dan politis) selalu mempengaruhi bentuk praktik akuntansi yang dijalankan. Sehingga praktik akuntansi akan mengalami sejarah dan perkembangan yang unik seiring dengan perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Menurut Suwarjono (2005: 1) untuk dapat mengembangkan suatu struktur dan praktik akuntansi di suatu wilayah atau negara tertentu tidak cukup hanya dengan belajar praktik akuntansi yang sedang berjalan saja. Di balik praktik akuntansi sebenarnya terdapat seperangkat gagasan-gagasan yang melandasi praktik tersebut berupa asumsi-asumsi dasar, konsep-konsep, penjelasan, deskripsi, dan penalaran (Suwarjono, 2005:2). Gagasan-gagasan yang muncul di balik praktik akuntansi tersebut sebenarnya sangat menarik untuk dikaji dalam rangka konstruksi dan pengembangan akuntansi yang lebih baik dan maju.

Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi bentuk praktik akuntansi yang jarang terfikirkan oleh kita adalah faktor budaya lokal dan agama. Budaya lokal dan agama suatu wilayah akan memberikan style praktik akuntansi yang sedang berjalan. Gagasan-gagasan yang muncul di balik praktik akuntansi yang dipengaruhi oleh budaya lokal suatu wilayah jelas akan berbeda dengan praktik akuntansi yang dipengaruhi budaya lokal wilayah lain. Praktik akuntansi yang berjalan karena pengaruh budaya Jawa misalnya, jelas akan memunculkan gagasan-gagasan di balik praktik akuntansi tersebut dengan sifat alamiah Jawa. Demikian halnya pengaruh agama terhadap praktik akuntansi akan memunculkan gagasan-gagasan di balik praktik akuntansi yang bersifat agamis.

Oleh karenanya kita tidak selalu bisa memaksakan diri untuk menerapkan praktik akuntansi yang selama ini diadopsi dari Amerika. Hal ini karena akuntansi Amerika jelas tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat lokal. Praktik akuntansi yang dijalankan oleh Amerika hanya sesuai dengan masalah lokalitas di Amerika saja. Prosedur, metoda, dan teknik pencatatan transaksi keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan yang telah ditetapkan yang sesuai dengan lokalitas Amerika.

Tulisan ini akan menggali dan memahami gagasan-gagasan yang muncul dari sebuah praktik akuntansi yang sederhana. Praktik akuntansi sederhana dan alamiah tersebut muncul dari nilai-nilai kearifan budaya Jawa.

Budaya menurut Kuntowijoyo (2006: 3) adalah hasil karya cipta (pengolahan, pengerahan dan pegarahan terhadap alam) manusia dengan kekuatan jiwa (pikiran, kemauan, intuisi, imajinasi, dan fakultas-fakultas ruhaniayah lainnya) dan raganya yang menyatakan diri dalam berbagai kehidupan (ruhaniah) dan penghidupan (lahiriah) manusia sebagai jawaban atas segala tantangan, tuntutan dan dorongan dari interen diri manusia, menuju arah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan (spiritual dan material) manusia, baik individu maupun masyarakat ataupun individu dan masyarakat. Soedarjono (2007) membedakan wujud budaya sebagai hasil akal, pikir budi manusia menjadi tiga, yaitu: (1) sebagai suatu yang kompleks ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya; (2) sebagai suatu yang kompleks aktivitas kelakuan berpola manusia. (3) sebagai benda-benda hasil karya manusia yang bersifat fisik, seperti bangunan, peralatan, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari dunia, orang Jawa dikenal memiliki kemampuan asimilasi dan adaptasi budaya yang luar biasa. Persinggungan antar-budaya dan agama di seluruh dunia mau tak mau ikut menggoreskan lukisan di wajah budaya dan agama orang jawa. Akibatnya, terjadilah pengelompokkan aliran, keyakinan, dan pemikiran tentang sejumlah ide dasar spiritualisme. Penelitian Geerzt (1960) yang akhirnya disanggah banyak ahli, tampaknya juga mencoba memahami pemilahan pola pemikiran dan budaya spiritual masyarakat jawa menjadi abangan, santri, dan priyayi. Kuntowijoyo (1987: 3) menyimpulkan bahwa pada akhirnya semua agama yang berkembang di tanah jawa pada dasarnya selalu berciri jawanisme.

Budaya Jawa memiliki kaidah-kaidah yang dapat dengan mudah diidentifikasi berdasarkan ungkapan-ungkapan budaya sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung oleh masyarakat. Nilai-nilai kearifan jawa juga merupakan bentuk akuntabilitas dari segala aktivitas sehari-hari yang di dalamnya juga termasuk aktivitas ekonomi. Akuntabilitas yang berdasarkan nilai-nilai kearifan tersebut tercipta karena rasa kekeluargaan dan gotong royong (Prabowo, 2003: 24).

Penelitian ini secara langsung akan berkaitan dengan akuntabilitas. Oleh karenanya perlu memahami konsep-konsep akuntabilitas untuk dapat menyelami bagaimana nilai kearifan budaya Jawa menciptakan proses akuntabilitas. Menurut Robert dan Scapens (1985) akuntabilitas secara tradisional adalah suatu hubungan yang meliputi pemberian dan penerimaan dari sesuatu sebab yang dapat diterima secara akal sehat. Pengertian ini mengasumsikan bahwa setiap individu, kelompok kecil atau organisasi harus mempunyai kepastian hukum yang menjadi dasar untuk tindakan yang diambil. Robert (1996) sebagaimana yang dikutip Randa (2009) menggaris bawahi bahwa akuntabilitas mempunyai aspek sosial yang menjadi instrumen dari nilai moral. Dengan pemahaman demikian maka akuntabilitas tidak terbatas pada pertanggungjawaban akan sesuatu yang diserahterimakan antara dua pihak tetapi juga menyangkut aspek moral yang selalu diperjuangkan dalam suatu organisasi.

Sinclair (1995) mendefinisikan akuntabilitas sebagai perilaku individu atau organisasi untuk menjelaskan dan bertanggungjawab atas tindakan mereka melalui pemberian alasan mengapa tindakan dilakukan. Pemahaman Sinclair senada dengan orang Jawa disaat para orang tua memberikan nasehat kepada anaknya. Para orang tua biasanya mengajak agar anaknya secara individu memiliki tanggungjawab baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Misalnya petuah arif mengatakan aja sangga uang, artinya jangan berpangku tangan. Petuah arif ini memilik filosofi yang sangat dalam karena mengajak kita untuk memiliki tanggung jawab kepada diri sendiri dengan cara memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Di samping itu juga menghindarkan diri dari bergantung pada orang lain. Petuah arif yang identik dengan aja sangga uang misalnya sopo sing obah bakal mamah, artinya siapa saja yang mau bekerja pasti akan mem-peroleh makan (pendapatan).

Pemahaman yang lebih luas tentang akuntabilitas adalah bahwa akuntabilitas bukan hanya milik individu atau organisasi tetapi menjadi hak dan milik masyarakat umum yang mempunyai kedekatan atau keterpaduan dengan individu atau organisasi tersebut (Gray et al., 2006). Pemahaman yang luas ini juga sejalan dengan falsafah jawa yang mengatakan rukun agawe sentosa, artinya kerukunan membuat damai. Akuntabilitas individu tidak lepas dari hubungan individu tersebut dengan komunitas yang lebih besar misalnya masyarakat. Gray et al. (1997) menyatakan konsep akunta-bilitas ini berada dalam kerangka tanggung jawab sosial yang harus dipenuhi sebagai bagian dari komunitas masyarakat luas.

Akuntabilitas juga berhubungan dengan konsep kejujuran dan etika (Parker dan Gould, 2000; Shearer, 2002). Dalam falsafah Jawa terdapat istilah yang mengatakan sopo jujur bakal mujur, artinya siapa yang jujur bakal mujur atau selamat. Kejujuran bagi orang Jawa adalah sebuah identitas. Karena dalam hubungannya dengan kerjasama bisnis, mereka harus saling menaruh kepercayaan. Dengan demikian akuntabilitas merupakan komitmen dua pihak yaitu pihak pembuat komitmen (accountor) dan pihak penerima komitmen (accountee) (Parker dan Gould, 2000). Penerima komitmen baik individu maupun organisasi dikatakan akuntabel jika bertindak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati oleh pembuat komitmen. Meskipun demikian petuah ini sering dibuat plesetan dengan mengatakan wong jujur baka ajur, artinnya orang jujur bakal hancur atau jujur bakal kojur. Hal ini sebenarnya hanya melihat sebuah realitas yang sudah mengabaikan nilai-nilai moral. Refleksi ini juga menunjukkan bahwa akuntabilitas juga menyentuh aspek-aspek nurani setiap individu yakni tidak hanya menjalankan ritual-ritual belaka tetapi muncul kepermukaan sebagai hasil dari proses perenungan (Randa, 2009). Dengan melibatkan hati nurani yang mendalam, maka setiap individu atau organisasi akan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan etika yang menjadi anggukan universal untuk senantias diperjuangkan dan diwujudkan.

3. Motivasi Penelitian

Penelitian yang berfokus pada kebudayaan Jawa sudah banyak dilakukan. Umumnya menekankan pada perilaku individu maupun organisasi di lingkungan masyarakat. Hasil-hasil penelitian tentang kebudayaan Jawa khususnya nilai-nilai kearifan menginspirasi penulis untuk menginvestigasi lebih lanjut. Sehingga penelitian ini didorong oleh keinginan peneliti untuk menggali lebih dalam dan memahami akuntabilitas yang belum terkuak melalui nilai-nilai kearifan budaya Jawa.

Motivasi peneliti didasarkan pada masih banyaknya petuah-petuah arif orang Jawa yang berserakan dan diabaikan begitu saja. Sehingga dalam penelitian ini peneliti terdorong untuk melakukan pengumpulan kembali petuah-petuah arif tersebut. Peneliti sangat yakin bahwa filosofi yang terkandung di dalam petuah-petuah arif tersebut menunjukkan akuntabilitas orang Jawa, baik sebagai individu maupun organisasi di masyarakat.

4. Perumusan Masalah

Obyek yang akan digali dalam penelitian ini berkaitan erat dengan budaya dan akuntabilitas. Budaya Jawa merupakan hasil cipta, karsa, rasa masyarakat Jawa yang ditujukan pada peningkatan kualitas hidup manusia menjadi lebih luhur dan mulia (Budiman, 1993). Berdasarkan uraian latar belakang dan motivasi peneliti, penelitian ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana nilai-nilai kearifan budaya Jawa yang melekat dan dijalankan pada aktivitas ekonomi di masyarakat
  2. Bagaimana menggali dan memahami praktik akuntabilitas yang melekat dan dijalankan pada nilai-nilai kearifan budaya Jawa

5. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai kearifan budaya Jawa yang mengandung nilai religius terutama karena pengaruh agama Islam yang muncul dari praktik akuntabilitas yang dijalankan. Tulisan ini juga akan mencoba memahami dengan cara memetaforakan nilai-nilai kearifan budaya Jawa yang muncul tersebut ke dalam praktik akuntansi yang alamiah.

6. Manfaat Penelitian

Manfaat Praktis. Nilai-nilai kearifan budaya Jawa yang tersirat dalam petuah-petuah orang tua jaman dulu akan digali dalam penelitian ini dan diharapkan dapat memberikan frame bahwa praktik-praktik akuntabilitas yang sudah ada jaman dulu dapat dijadikan acuan bagi praktik-praktik akuntabilitas kontemporer. Praktik-praktik akuntabilitas jaman dulu menekankan pada proses membentuk kebersamaan dan kegotong-royongan sehingga hal ini menjadi kelebihan jika dibandingkan praktik akuntabilitas kontemporer yang lebih mengutamakan kepentingan salah satu pihak, misalnya kepentingan pemilik.

Manfaat Kebijakan. Kemunculan praktik akuntabilitas di Jawa sebenarnya sudah ada sejak jaman raja-raja Jawa. Praktik ini diharapkan memberikan inspirasi bagi pelaku bisnis yang selama ini hanya menekankan pada bagaimana proses akuntabilitas yang dijalankan untuk kepentingan pemilik yang kemudian menimbulkan perilaku dari agen (manajemen) yang disfungsional. Perilaku disfungsional ini berupa tindakan manajemen sebagai pengelola bisnis yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemilik. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman pada pembuat kebijakan bisnis bagaimana membuat praktik akuntabilitas yang menciptakan kebersamaan dan kegotong-royongan.

Manfaat Teoritis. Teori-teori akuntabilitas telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian empiris. Perumusan akuntabilitas menjadi suatu konsep teori dalam bidang akuntansi kemudian dilakukan melalui teori stakeholder dan teori agensi. Dalam teori agensi Jensen dan Meckling (1976) disebutkan bahwa antara manajemen dan pemilik mempunyai kepentingan yang sama. Pihak prinsipal menginginkan agar manajemen mengelola perusahaan dengan akuntabel untuk memenuhi kesejahteraan prinsipal. Sebaliknya manajemen juga ingin menaikan utilitasnya yang pada akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan manajemen. Penelitian ini diharapkan menambah ke-lengkapan teori akuntabilitas. Teori akuntabilitas yang dirumuskan dari hasil penelitian ini akan bersifat normatif dan subyektif. Hal ini karena akuntabilitas versi Jawa meng-utamakan kebersamaan dan kegotong-royongan. Sehingga menuntut semua pihak untuk berperilaku jujur.

KONSTRUKSI AKUNTABILITAS DENGAN MUTIARA NILAI KEARIFAN BUDAYA JAWA

1. Memburu Mutiara Nilai Kearifan Jawa dengan Habitus Pierre Bourdieu

Penelitian akuntansi dengan menggunaan habitus Bourdieu di Indonesia pertama kali di lakukan oleh Mulawarman (2008: 43). Penelitiannya menemukan habitus amanah pada trah-trah bisnis di Jawa. Sebenarnya Pierre Bourdieu dikenal luas melalui pemikiran teoritisnya tentang habitus dan modal kultural. Habitus merupakan kontribusi Bourdieu dalam usahanya untuk mengkonstruksi sebuah model yang memperhitungkan struktur dan agen (Lash, 2004: 239). Habitus merupakan sebuah proses yang menghubungkan antara agensi (practice) dengan struktur (melalui capital dan field) (Bourdieu yang dikutip Mulawarman [2008: 43]). Pendekatan ini dirumuskan sebagai berikut:

{ (habitus) (capital) } + field = practice

Menurut Featherstone (2001: 214) konsep Bordieu tentang habitus berguna untuk membuat penjelasan mengenai berbagai disposisi yang menetapkan selera dan yang mencirikan stratum ini. Dengan habitus Bordieu merujuk pada berbagai disposisi yang tidak disadari, skema-skema klasifikasi, pilihan-pilihan yang dianggap benar yang tampak jelas dalam pengertian seseorang tentang ketepatan dan validitas seleranya akan berbagai benda dan praktik budaya. Penting untuk ditekankan bahwa habitus hanya ada pada level pengetahuan sehari-hari tapi terpahat pada tubuh, diungkapkan dalam ukuran, volume, bentuk, postur tubuh, cara berjalan, duduk, cara makan dan minum dan lain sebagainya—ini semua merupakan ungkapan habitus asal-usul seseorang.

Habitus tidak berdiri sendiri melainkan dipengaruhi dan ditransformasi oleh capital. Bordieu sebagaimana dikutip Mulawarman (2008: 45) menggambarkan bentuk capital yang melampaui konsep aliran Marxis yang bukan saja berkaitan dengan modal ekonomi (economic capital) melainkan juga modal simbolik (symbolic capital) seperti prestise, modal kultural dan pengakuan modal ekonomi itu sendiri. Modal dapat mempengaruhi keberadaan habitus seseorang bukan hanya bentukan modal ekonomis saja, tetapi terdapat modal sosial, budaya, simbol yang mempengaruhi habitus seseorang (Mulawarman 2008: 46).

2. Falsafah Hidup dan Etos Kerja: Nilai Kearifan Budaya Jawa dalam Konteks Bisnis

Masyarakat Jawa memiliki karakteristik budaya yang khas sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Prabowo (2003: 24) membagi budaya secara garis besar menjadi dua, yaitu: budaya lahir dan budaya batin. Budaya lahir terkait dengan kedudukan seseorang sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hal itu, budaya Jawa memiliki kaidah-kaidah yang dapat dengan mudah diidentifikasi berdasarkan ungkapan-ungkapan budaya sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung oleh masyarakat. Sebaliknya budaya batin terkait dengan persoalan-persoalan yang bersifat supranatural atau hal-hal yang tidak dapat dijangkau berdasarkan penghitungan empiris atau objektif, tetapi menduduki posisi yang penting dalam sistem kehidupan masyarakat jawa. Budaya batin yang dalam klasifikasi menurut Koentjaraningrat (1982: 2) dapat dimasukkan pada sistem religi atau keagamaan Jawa tersimbolisasikan dalam ungkapan manunggaling kawula Gusti.

Sikap keagamaan masyarakat Jawa sangat kental dengan keyakinan tentang asal mula kehidupan yang disebut sebagai sangkan “asal atau kelahiran” dan paran “tujuan hidup”. Pengakuan orang Jawa terhadap Tuhan Sang Pencipta dapat dilihat pada ungkapan-ungkapan yang mengacu pada ketergantungan manusia terhadap Tuhan. Sejumlah ungkapan yang bernada keagamaan tersebut antara lain adalah manungsa sadrema nglakoni, sumendhe ing pepesthening pangeran, pasrah lan sumarah ing pangeran, wis ginaris ing pangeran.

Budaya Jawa sangat dipengaruhi oleh sikap mental orang-orang jawa sebagai pandangan hidupnya. Pandangan hidup orang Jawa akan menjadi acuan dalam bertindak dalam kehidupan. Jong (1976) dalam Endraswara (2006: 43) mengemukakan bahwa unsur sentral kebudayaan Jawa adalah sikap rila (rela), nrima (menerima), dan sabar. Hal ini akan mendsasari segala gerak dan langkah orang Jawa dalam segal hal. Rila disebut juga eklas, yaitu kesediaan menyerahkan segala milik, kemampuan dan hasil karya kepada Tuhan. Nrima berarti merasa puas dengan nasib dan kewajiban yang telah ada, tidak memberontak, tapi mengucapkan matur nuwun (terima kasih). Sabar, menunjukkan ketiadaan hasrat, ketiadaan nafsu yang bergolak.

Di samping sikap mental, orang Jawa juga memiliki etos kerja yang kuat dan disiplin tinggi. Etos kerja ini diajarkan pertama kalinya oleh para orang tua kepada anaknya ketika mereka sudah berumur akil baligh. Nilai-nilai yang ditanamkan orang tua kepada anaknya tersebut adalah terkait dengan kewajiban dalam mencari penghidupan (pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari). Mereka akan terus mendorong anaknya dengan memberikan nilai-nilai yang arif dan memberikan sebuah perumpamaan-perumpamaan sebagai tuladha (contoh). Kata-kata arif yang sering diucapkan oleh orang tua kepada anaknya agar mau bekerja, misalnya ana dina ana upa, artinya ada hari pasti ada rizqi; aja sangga uang “jangan berpangku tangan”; obah-mamah, lebih lengkapnya dalam sebuah nasehat sing sopo gelem obah bakal mamah, artinya siapa yang mau berusaha (bekerja) pasti akan makan (Prabowo, 2003: 23). Nasehat tersebut memiliki arti yang sangat dalam. Obah yang berarti bergerak, menunjukkan bahwa kita harus bekerja untuk mendapatkan mamah (makan) yang berarti rizki.

Bahkan tidak jarang orang tua yang memberikan gambaran kepada anaknya dengan ungkapan manuk esuk-esuk metu sak jerone luwe, mulih sore iso dadi wareg. Artinya seekor burung pagi-pagi keluar dalam keadaan lapar, pulang sore dalam keadaan kenyang. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana seekor burung saja mampu memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Menurut falsafah tersebut manusia seharus-nya memiliki kemampuan yang lebih dari seekor burung. Ungkapan tersebut sebenarnya diambil dari sebuah ajaran Islam yang terkandung dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh AtTirmidzi, yang berbunyi:

“Kalau kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah memberi rezqi kepada kalian, sebagaimana burung-burung diberi rizqi; pagi-pagi mereka meninggalkan sarang dalam keadaan lapar, dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang”

Dalam etos berbisnis orang Jawa sangat memegang prinsip-prinsip leluhurnya. Ketika memulai untuk melakukan aktivitas bisnis para orang tua mengingatkan Gusti ora sare “Tuhan tidak tidur. Ungkapan ini memiliki makna bahwa kita harus memulai aktivitas dengan memohon apa yang kita inginkan. Di samping itu ungkapan tersebut memiliki nuansa persuasif agar seseorang selalu berhati-hati sebelum berbuat (Suratno dan Astiyanto, 2009: 93). Tuhan selalu mengawasi sehingga manusia harus memikirkan apakah tindakan yang dilakukannya berpengaruh baik atau buruk, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Prinsip penting orang Jawa dalam etos dagang adalah ungkapan jujur bakal mujur “jujur akan bahagia. Jadi orang Jawa berkeyakinan bahwa seseorang yang berani dan selalu berperilaku jujur akan mendapatkan kebahagiaan. Orang yang mampu berlaku jujur akan memiliki keuntungan karena apa pun alasannya, orang yang mampu bersikap jujur akan mendapatkan ketenangan hati dan dirinya tidak merasa bersalah.

Pikiran cerdik dalam berdagang orang Jawa adalah dengan menghindari kegedhen empyak kurang cagak, artinya terlalu besar rangka atap kurang tiang. Ungkapan Jawa tersebut sebagai peringatan bahwa jika seseorang memiliki rencana dan keinginan, hendaklah sesuai dengan kemampuannya. Ungkapan ini juga mengingatkan untuk mengelola kas dengan sebaik-baiknya agar dapat menjalankan roda bisnis.

3. Konstruksi Akuntansi Dengan Habitus Narima Ing Pandum

Pada bagian ini akan ditelusuri perilaku orang jawa yang tercermin dalam falsafah hidup dan etos kerjanya dalam melakukan praktik di medan kehidupan sehari-hari dengan bekal capital yang dimilikinya. Sebagaimana diuraikan dalam bagian sub judul falsafah hidup dan etos kerja, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai kearifan budaya Jawa dalam konteks praktik bisnis paling tidak meliputi obah—mamah—sanak. Perilaku obah (bekerja) bagi sebagian besar orang Jawa adalah merupakan sesuatu yang harus segera dipraktikan di mana pun tempatnya mereka berada dan dengan seluruh kemampuan (capital) yang dimilikinya. Konsekwensi positif dari perilaku obah adalah akan memunculkan mamah (makan). Mamah sebenarnya merupakan bagian dari rizqi yang Tuhan berikan. Mamah bukan hanya sekedar makan dalam konteks menyambung hidup saja melainkan diharapkan menyisakan sesuatu yang dapat ditabung untuk kebutuhan jangka panjang. Meskipun orang Jawa meyakini bahwa hal tersebut berasal dari sangkan paran (berasal dari Tuhan yang diberikan dari arah manapun baik halal maupun haram), namun mereka tetap menjaga agar rizqi yang didapat memperoleh ridhaning gusti.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kita sering mendengar ungkapan tuna satak bathi sanak dalam pergaulan para bakul. Artinya, rugi uang asal untung saudara. ungkapan yang sering ditemukan dalam pergaulan para bakul (pedagang) tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan orang berdagang tidak selalu diukur dengan keuntungan berupa uang. Bagi seorang pedagang yang dalam bahasa jawa disebut bakul, mendapatkan saudara atau rekanan dalam berusaha pun dihitungnya sebagai keuntungan (laba). Oleh sebab itu, seorang pedagang rela menjual barang dagangannya dengan harga sedikit lebih rendah dari penawarannya demi menjalin hubungan dengan orang lain, yakni pembeli. Bagi orang Jawa harta bukanlah segala-galanya. Ukuran kekayaan seseorang pun tidak selalu ditentukan dengan banyaknya harta yang dimiliki. Manusia jawa merupakan sosok yang dapat menerima kondisi atau nasib yang terjadi dalam hidupnya dengan dilandasi rasa percaya pada kemurahan Tuhan sehingga segala sesuatu diterima dengan jiwa narima ing pandum (Marbangun, 1995: 65)

Sikap hidup yang mencerminkan kerukunan tersebut tidak terlepas dari sikap tepo slira (tenggang rasa). Jika persaudaraan menjadi pertimbangan yang khusus, maka seorang bakul tidak mungkin menipu pembeli dengan menjual harga tinggi untuk barang berkwalitas rendah. Lagi pula pedagang yang memiliki cara berpikir Jawa tidak akan nuthuk rega (menipu dengan harga tinggi). Penipuan berbentuk nuthuk rega akan mengecewakan para pembeli dan menjauhkan pedagang dengan pelanggannya. Orang Jawa meyakini bahwa perbuatan menipu orang lain merupakan tindakan negatif. Dengan berbekal kesadaran bahwa nandur bakal ngundhuh ”menanam akan memetik” atau ngundhuh wohing pakarti ”memetik buah perbuatan”, sikap dan perilaku orang Jawa sesungguhnya dikendalikan oleh cahaya hati nurani untuk menjauhi perbuatan nistha.

4. Obah (Bekerja) sebagai Konsep Dasar Arus Kas

Obah (bekerja) adalah merupakan aktivitas wajib bagi setiap individu. Setiap individu orang Jawa diharuskan memiliki mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Setiap obah (dalam bentuk pekerjaan) yang dilakukan dengan mengeluarkan udu (kas keluar) diharapkan akan menimbulkan pendapatan (arus kas yang masuk) berapa pun nilainya tentunya dengan. Konsep obah dapat dianalogikan dengan konsep ma’isyah sebagaimana yang dirumuskan oleh Mulawarman (2008: 173). Mulawarman (2008: 175) menjelaskan konsep ma’isyah melalui teoritisasi habitus yang kongkrit juga menerjemah dalam akuntansinya melalui trah-trah bisnis yang diteliti. Ma’isyah sebagai aktivitas bisnis dalam bentuk transaksi kuantitatif untuk memperoleh dan mengeluarkan kas (arus kas) dengan tetap menekankan keseimbangan kepentingan diri/finansial – sosial – lingkungan (Mulawarman 2008: 177). Berdasarkan habitus ma’isyah tersebut Mulawarman memunculkan konsep arus kas syar’ah.

Dengan logika yang sama, penelusuran nilai-nilai kearifan budaya Jawa yang religius dapat dilakukan untuk merumuskan konsep-konsep akuntansi. Konsep obah sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya merupakan aktivitas bisnis individu dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif. Obah sebagai aktivitas bisnis dalam bentuk transaksi kuantitatif mengorbankan udu (kapital) berupa kas/setara kas maupun non kas untuk memperoleh kas yang lebih barokah. Sementara itu obah juga bersifat bukan materi. Obah disamping mencari rizqi yang barokah juga merefleksikan sikap andap asor ”rendah hati” dalam perilaku budaya urip tulung tinulung ”hidup tolong menolong” (Marbangun, 1995: 65).

Arus kas yang dimetaforakan dengan obah mengandung nilai finansial sekaligus juga kemanusiaan. Obah sebagai aktivitas bisnis bernilai finansial karena secara mekanis setiap transaksi dihitung berapa udu yang dikeluarkan dan berapa uang yang masuk. Nilai kemanusiaan yang terkandung dalam obah ditunjukkan dengan dua landasan pokok, yakni perlunya seseorang menghindari konflik dan memiliki sikap hidup rukun (Geertz, 1986: 38).

5. Mamah (rizqi barokah) sebagai Konsep Dasar Nilai Tambah

Ungkapan sapa sing obah mamah, menunjukkan bahwa mamah (rizqi) merupakan proses kedua setelah obah. Mamah yang diharapkan adalah benar-benar berasal dari pekerjaan yang halal bukan berasal dari belas kasihan dari saudara maupun orang lain. Hal ini karena konsep urip tulung tinulung sangat memungkinkan seseorang bisa mamah karena mendapat bantuan atau pertolongan orang lain. Konsep mamah sangat menekan-kan pada nilai-nilai ketuhanan. Hal ini di tunjukkan dengan ungkapan paring panglilane gusti ”pemberian seseuai dengan kerelaan Tuhan”. Bagi masyarakat Jawa, kerelaan Tuhan menjadi tujuan utama untuk mendapatkan rizqi yang berkah. Sebagai konsekwensinya adalah menyisihkan sebagian dari rizqi yang diterima untuk diberikan kepada yang berhak.

Bagi orang Jawa tidak berpikiran bahwa pada saat mereka memberi harus kembali kepadanya dalam bentuk kebaikan lain. Kita harus ikhlas dan rila legowo pada saat membantu, menyumbang, atau meminjamkan sesuatu kepada orang lain. Dalam konteks kebaikan seperti itu, orang Jawa mengatakan bahwa keikhlasannya adalah ibarat idhep-idhep nandur pari jero (Suratno dan Astiyanto, 2009: 99). Pari jero artinya padi yang memerlukan waktu lama untuk dapat dipanen.

Orang Jawa memiliki keyakinan bahwa ada dua bentuk balasan kebaikan—sesuai dengan ajaran agama Islam—yaitu: pertama, kebaikan yang dengan cepat/segera dibalas dengan kebaikan. Kedua, kebaikan yang mendapat balasan dalam jangka waktu lama, yang biasanya diibaratkan dengan nandur pari jero. Menanam kebaikan kepada seseorang yang tidak mampu membalas kebaikan itu dipandang sebagai nandur pari jero. Sehingga dengan demikian konsep mamah mengandung makna bahwa rizqi yang diperoleh dari hasil obah yang bernilai tambah untuk kepentingan sendiri, dan makhluk lain.

6. Sanak (Persaudaraan) sebagai Konsep Dasar Neraca

Ungkapan tuna satak bathi sanak sebenarnya merupakan gambaran sikap rendah hati orang Jawa. Menurut Suratno dan Astiyanto (2009: 270) Bathi sanak artinya tambah sedulur (tambah saudara; yang berarti juga tambah pelanggan). Pada dasarnya, tidak ada seorang bakul ”pedagang” yang bersedia merugi. Mereka pasti mencari untung agar profesinya sebagai pedagang tetap dapat bertahan.

Cara berpikir orang Jawa tidak sesempit yang dibayangkan. Mereka ternyata lebih mementingkan going concern usahanya daripada menghindari kerugian dalam jangka pendek. Mengutamakan bathi sanak sama artinya menambah pelanggan sebanyak-banyaknya. Bagi orang Jawa pelanggan adalah ibarat aset yang potensial menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. Pelanggan tidak berada di luar melainkan manunggal dalam kekayaan. Sehingga pada suatu saat tuna satak dianggap tidak berarti apa-apa jika kekayaan yang berupa sanak ”pelanggan” terus bertambah.

Dengan demikian sanak dapat dijadikan untuk mendefinisikan konsep kekayaan (aset) sebagai konsep dasar neraca. Neraca berbasis sanak sebagai kekayaan di samping aset lain, kewajiban, dan ekuitas harus memiliki nilai keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah tidak hanya terkait dengan bagaimana mendapatkan aliran kas masuk yang mencerminkan keuntungan melainkan investasi demi kepentingan sosial yang lebih luas sehingga akan menjamin keberlangsungan usaha.

7. Uraian Akhir

Berbicara tentang budaya Jawa sesungguhnya dapat diibaratkan seperti berbicara tentang ”budaya belantara” yang sangat luas dan kompleks. Hal itu disebabkan oleh sejarah perjalanan hidup masyarakat Jawa yang amat panjang dengan berbagai sistem budaya yang turut melingkupinya. Tulisan ini ibarat ora ana sekuku irenge, sangat sempit dalam konteks budaya Jawa. Namun hasil penelusuran yang dilakukan dapat menginspirasi bahwa praktik akuntansi yang dijalankan dalam setting alamiah para bakul pada umumnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kearifan budaya Jawa.

Nilai-nilai kearifan yang muncul mempengaruhi praktik akuntansi sangat ber-manfaat untuk melakukan konstruksi akuntansi yang bercorak Jawa. Hasil penelusuran yang dilakukan terhadap nilai-nilai kearifan budaya Jawa menemukan konsep obah—mamah—sanak. Konsep-konsep tersebut selanjutnya digunakan sebagai penyusunan konsep dasar arus kas—nilai tambah—neraca.

Bagian ini merupakan ide awal dalam melakukan konstruksi akuntansi di ranah budaya dan agama khususnya yang bercorak Jawa. Proses penelitian selanjutnya adalah menyelami cara berbisnis orang jawa dengan nilai-nilai kearifan budaya Jawa, yaitu perlunya menelusuri lebih dalam setting alamiah praktik akuntansi yang dijalankan. Di samping itu menggali kemungkinan penyusunan laporan keuangan dengan corak Jawa.

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

ETHNOMETHODOLOGY APPROACH: MENGUNGKAP REALITAS KEHIDUPAN PRAKTIK SOSIAL DAN AKUNTANSI TAKEN FOR GRANTED

1. Etnometodologi: Asal Mula dan Definisi

Ilmu tentang manusia telah berkembang sejak diketemukannya tulisan kuno tentang etnis (bangsa) yang sudah berumur lebih dari 500 tahun lalu di Mesir yang ditulis oleh Herodatus (Haviland 1993: 5). Herodatus disebut sebagai bapak etnologi karena keberhasilannya menulis tentang manusia Mesir beserta karakteristiknya. Meskipun masih bersifat subyektif dan mengandung perasangka yang kurang baik terhadap bangsa lain tulisannya telah menginspirasi beberapa ilmuwan dizaman itu sampai sekarang.

Dalam perkembangannya, ilmu etnis (etnologi) tidak mengkaji tentang metodologi tentang manusia. Sehingga sebuah kesalahpahaman jika memahami istilah etnometodo-logi adalah bagian dari etnologi atau sebaliknya (Coulon 2008: 95). Hal ini disebabkan karena mengartikan penggalan kata yang salah. Orang mengira kata etnometodologi adalah suatu metodologi baru dari etnologi. Padahal ini merupakan dua hal yang tidak ada hubungannya sama sekali. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jenis-jenis atau karakteristik etnis. Sementara menurut asal kata, etnometodologi berasal dari tiga bahasa Yunani ethnos yang berarti orang (etnis), methodos yang berarti metoda dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah etnometodologi adalah sebuah studi atau ilmu tentang metoda yang digunakan orang awam (etnis) untuk menciptakan perasaan keteraturan sosial (social order) di dalam situasi dalam mana mereka berinterasksi (Raho 2007: 151-152).

Pendekatan etnometodologi berkembang di tahun 1950-an, doktrinnya diajarkan oleh tokoh pemrakarsa bernama Harold Garfinkel di West Coast – UCLA. Namun perkembangan etnometodologi prakarsa Garfinkel baru disadari oleh profesi-profesi lain setelah akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an (Poloma 1994: 281). Munculnya etnometodologi Garfinkel didasari oleh kritiknya terhadap metodologi yang digunakan oleh sosiologi konvensional yang gagal menggambarkan realitas. Salah satu kritiknya adalah terkait dengan obyektivitas sebagai alat ukur keilmiahan realitas tersebut.

Etnometodologi menyangkut studi mengenai kegiatan manusia sehari-hari khususnya yang terkait dengan aspek-aspek interaksi sosial yang diambil begitu saja (taken for granted) (Poloma 1994:284). Garfinkel dalam Coulon (2008: 27) membatasi pengertian etnometodologi sebagai penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari praktik-praktik kehidupan sehari-hari yang terorganisir. Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan common-sense (akal sehat). Apa yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometologi Granfikel adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehari-hari (Furchan, 1992 : 39-41).

2. Akar Intelektual Etnometodologi

Etnometodologi sebagaimana halnya dengan interaksionisme simbolik merupakan aliran pemikiran dalam paradigma interpretif (Burrel and Morgan 1993: 235). Di samping itu etnometodologi juga merupakan teori yang bernaung di bawah paradigma difinisi sosial. Hal ini disebabkan lahirnya etnometodologi diawali dengan munculnya teori-teori sosiologi dalam mana Grafinkel sebagai pemrakarsa banyak belajar pada para tokoh sosiologi. Oleh karenanya sangat mungkin pemikiran etnometodologi dipengaruhi oleh pemikiran seperti Alfred Schutz tokoh fenomenologi, pemikiran interaksionisme-simbolik dan pemikiran Goffman tokoh dramaturgi.

Munculnya etnometodologi Grafinkel tidak lepas dari pengaruh Alfred Schutz, ahli fenomenologi yang juga sebagai guru Grafinkel. Harus diakui bahwa banyak konsep etnometodologi yang diambil dari Fenomenologi Schutz (Raho 2007). Fenomenologi Schutz menekankan pentingnya studi tentang bagaimana interaksi menciptakan dan mempertahankan realitas sosial tertentu. Penekanan pada hakekat dunia yang diterima begitu saja (taken for granted) dan tentang pentingnya dunia kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan perasaan aktor tentang realitas sosial merupakan konsep fenomenologi yang diadopsi oleh etnometodologi.

Etnometodologi memiliki beberapa kesamaan dengan interaksionisme-simbolik dalam hal pandangan subyektif terhadap dunia sosial. Zimmerman dan Wieder dalam Raho (2007: 289) mengatakan keduanya berhubungan dengan bagaimana suatu anggota masyarakat mulai melihat, menggambarkan dan menjelaskan keteraturan dalam dunia sosial dalam mana mereka hidup. Meskipun masalah keteraturan sosial yang merupakan inti dari teori sosiologi tersebut, dalam etnometodologi merupakan masalah pinggiran.

Etnometodologi juga menimba sumber inspirasi dari Dramaturgi karya Goffman (Raho 2007: 154). Goffman memusatkan perhatiannya pada cara-cara bagaimana aktor memanipulasi gerak isyarat untuk menciptakan kesan di sebuah panggung pertunjukkan. Goffman menekankan pentingnya proses manajemen kesan itu sendiri dan tidak peduli dengan tujuan atau sasaran yang mau dicapai dari aksi tersebut. Perhatian terhadap manajemen adegan sosial juga penting dalam analisis etnometodologi. Meskipun demikian minat etnometodologi bukan pada manajemen kesan individu-individu melainkan bagaimana aktor-aktor menciptakan perasaan akan realitas yang sama. Etnometodologi memusatkan perhatian pada teknik-teknik interaksi bukan untuk menciptakan kesan-kesan sebagaimana dramaturgi Goffman melainkan bagaimana teknik-teknik tersebut bisa mempertahankan suatu perasaan akan realitas sosial.

3. Konsep-konsep Dasar Etnometodologi

Etnometodologi mengembangkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang membantu menjelaskan bagaimana realitas yang common sense pada suatu masyarakat sosial dibangun, dipertahankan dan berubah. Konsep-konsep tersebut meliputi: praktik dan pelaksanaan tindakan, indeksikalitas, refleksifitas, akuntabilitas, keanggotaan dan analis percakapan (Raho 2007: 155).

Konsep praktik dan pelaksanaan tindakan

Etnometodologi menekankan pada konsep-konsep praktik dan pelaksanaan tindakan. Grafinkel menunjukkan bahwa penelitiannya berusaha mengkaji kegiatan-kegiatan praktis, lingkungan praktis, dan penalaran sosiologis praktis dengan dikaitkan pada kegiatan-kegiatan biasa kehidupan sehari-hari (Coulon 2008: 28). Psathas dalam Coulon (2008: 30) mengutarakan konsep etnometodologi adalah suatu praktik sosial reflektif yang berusaha menjelaskan cara setiap praktik sosial. Etnometodologi merupakan penelitian empirik mengenai metoda-metoda yang digunakan individu untuk memaknai dan sekaligus melaksanakan kegiatan sehari-harinya.

Para etnometodolog ingin lebih dekat dengan realitas kehidupan sosial daripada para sosiolog. Garfinkel dan Sacks dalam Poloma (1994: 334) menyatakan bahwa fakta sosial adalah pelaksanaan tindakan dari para anggota. Realitas sosial selalu diciptakan oleh para aktor dan bukan data yang sudah ada sebelumnya. Apa yang merubah para aktor, akan dapat diamati dan didiskripsikan. Kegiatan-kegiatan praktik para anggota dalam kehidupan nyata dapat mengungkapkan aturan-aturan dan prosedur-prosedur (Garfinkel dan Sacks dalam Poloma 1994: 334). Perhatian etnometodologi adalah memunculkan metoda-metoda yang digunakan para aktor untuk mengaktualisasi aturan-aturan yang dibuat.

Konsep Indeksikalitas

Kehidupan sosial terbentuk melalui bahasa, tetapi bukan bahasa para ahli tata bahasa dan para linguis, melainkan bahasa kehidupan sehari-hari. Spradley (1997: 23) mengatakan bahasa yang berbeda menciptakan dan mengekspresikan realitas yang berbeda-beda, mengkategorikan pengalaman dengan cara yang berbeda-beda. Selanjutnya, bahasa yang berbeda memberikan pola-pola alternatif untuk berpikir dan memahami. Ide yang menyatakan bahwa ungkapan bahasa merupakan indeksikal bukan berasal dari etnometodologi. Ungkapan indeksikal terhadap suatu kata, suatu perilaku, atau suatu kejadian dapat memiliki lebih dari satu pengertian dan akan bermakna sesuai dengan konteksnya (Coulon 2008: 31). Pemaknaan suatu kata atau suatu ungkapan bergantung pada faktor kontekstual seperti biografi pengujar, niat seketika, hubungan yang khusus antara pengujar dan teman ujar, percakapan sebelumnya. Seperti halnya wawancara, kuisioner yang digunakan oleh sosiologi: kata dan kalimat tidak mempunyai makna yang sama untuk semua orang, namun demikian pengolahan wawancara secara ilmiah yang dilakukan sosiolog menghasilkan kesamaan semantik dari kata dan adanya persetujuan umum dari individu-individu terhadap maknanya. Sehingga seorang etnometodolog tidak boleh memaksakan pandangannya tentang realitas kepada aktor, sebaliknya dia harus berusaha menempatkan dirinya ke tempat para aktor supaya memahami apa yang sedang terjadi (Raho 2007: 158).

Konsep refleksivitas

Dalam kegiatan sehari-hari, kita tidak sadar akan kenyataan bahwa ketika kita sedang berbicara, pada waktu yang bersamaan kita membangun makna, tatanan, dan rasionalitas yang sedang kita kerjakan saat itu, itulah yang dinamakan refleksivitas (Coulon 2008: 43). Refleksivitas menggambarkan praktik yang sekaligus juga merupakan rerangka sosial. Bagi sosiolog refleksivitas dianggap sebagai rintangan dalam memahami suatu rerangka sosial, sebaliknya etnometodolog menganggapnya sebagai suatu kondisi yang utama.

Konsep akuntabilitas

Grafinkel dalam Coulon (2008: 44) memberikan pengantar bahwa penelitian etnometodologi menganalisis kegiatan-kegiatan keseharian para anggota sebagai metoda yang menjadikan kegiatan-kegiatan tersebut terlihat rasional dan terlaporkan untuk semua tujuan praktik, yakni dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas) sebagai organisasi biasa kegiatan sehari-hari. Salah satu sifat penting dari akuntabilitas adalah rasional. Artinya konsep tersebut secara metodik dihasilkan dari situasi dan kegiatannya dapat dipahami, dapat didiskripsi, dan dievaluasi.

Konsep keanggotaan

Konsep anggota tidak hanya mengacu pada keanggotaan sosial melainkan kepada penguasaan bahasa natural, bisa dikatakan terlibat dalam produksi dan peragaan obyektif pengetahuan bersama dari kegiatan sehari-hari sebagai gejala-gejala yang dapat diamati dan diceritakan. Menjadi anggota adalah menggabungkan diri (berafiliasi) dengan suatu kelompok, suatu lembaga yang meminta penguasaan secara bertahap bahasa kelembagan bersama (Salim 2006:203). Sekali terafiliasi, para anggota tidak perlu mempertanyakan atau memikirkan apa yang sedang dikerjakan.

Analisis percakapan

Konsep ini mensyaratkan adanya kumpulan dan analisis data yang detail. Data tersebut tidak sekedar kata-kata melainkan juga keragu-raguan, desah nafas, sedu sedan, gelak tawa (Zimmerman dalam Ritzer 1996). Semua itu menggambarkan perbuatan percakapan aktor yang terlibat. Detail percakapan harus dianggap sebagai suatu prestasi. Aspek-aspek percakapan tidak diatur oleh etnometodologi, tetapi oleh aktivitas metodis dari para aktor itu sendiri.

4. Karakteristik Rasional dan Ilmiah sebuah Realitas Taken for Granted

Suriasumantri (2003: 142) menyatakan bahwa ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam (realitas kehidupan) yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala-gejala tersebut berdasarkan penjelasn yang ada. Menurut pandangan sosiologi kegiatan ilmiah saja tidak cukup untuk membentuk visibilitas tatanan sosial, maka diperlukan suatu obyektivitas dalam realitas. Para sosiolog menyarankan penguraian ungkapan-ungkapan secara obyektif, sementara etnometodologi menganggap bahwa kehidupan sehari-hari berjalan di atas suatu sistem yang penuh dengan ungkapan indeksikal. Menurut Poloma (1994: 293) dengan penekanan pada rasionalitas ilmiah, sebenarnya para sosiolog sudah bergeser dari rasionalitas kehidupan sehari-hari. Pengetahuan ilmiah dan difinisi situasi yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari sama-sama rasional, tetapi masing-masing berada pada tipe atau kategori yang berbeda. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Grafinkel dalam Poloma (1994: 293):

”Sebenarnya rasionalitas ilmiah memiliki karakter stabil atas tindakan-tindakan yang diatur oleh sikap pembentukan teori ilmiah. Sebaliknya, tindakan-tindakan yang diatur oleh sikap hidup sehari-hari ditandai oleh tidak adanya rasionalitas ini, baik sebagai karakter yang stabil maupun sebagai sanctional ideal”.

Para sosiolog memandang bahwa para aktor sosial terbentuk oleh keteraturan sosial (social order ) yang sudah ada dilingkungannya. Sementara Garfinkel mem-balikkan hubungan aktor dengan lingkungannya; ia meruntuhkan kecenderungan sosiologi yang melawan apa yang tersembunyi dengan apa yang terlihat (Coulon 2008:59). Sosiolog menganggap aktor, menurut ungkapan Garfinkel dalam Coulon (2008: 60), sebagai ”si dungu budaya”:

”Aktor sosial bagi para sosiolog adalah si dungu budaya yang menghasilkan kestabilan masyarakat dengan bertindak sesuai alternatif-alternatif tindakan yang terbentuk sebelumnya dan sah seperti apa yang diberikan oleh budaya kepadanya”

5. Kritik terhadap Pendekatan Etnometodologi

Keberhasilan pendekatan etnometodologi dalam menyumbangkan teori dan terutama kemampuannya dalam mengakumulasi pengetahuan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari tidak luput dari kritik atas permasalahan bawaannya. Beberapa kritik para sosiolog terhadap pendekatan etnometodologi dirangkum oleh Ritzer dan Goodman (2003: 350) sebagai berikut: pertama, etnometodologi terfokus pada masalah-masalah elementer. Para sosiolog memandang bahwa etnometodologi cenderung memusatkan pada masalah-masalah sepele dan mengabaikan isu-isu penting yang ada di masyarakat. Para etnometodolog mencoba mengatasinya dengan melakukan penggabungan atas keterbatasan-keterbatasan di dalam sifatnya yang holistik, sehingga tidak diragukan lagi yaitu kekuatan yang dapat diperhitungkan tatkala hal itu muncul menjadi suatu teori, metoda, serta pelaksanaan dari penyelidikan sosiologi yang bersifat empiris.

Kedua, etnometodologi sudah kehilangan akar fenomenoliginya. Para sosiolog menganggap etnometodologi telah kehilangan akar fenomenologi dan keterkaitannya pada proses kesadaran kognitif, sebagai gantinya ada upaya mengalihkan padangan pada proses kesadaran. Etnometodolog yang menekuni pada analisis percakapan berargumen bahwa mereka lebih memusatkan perhatiannya pada sifat struktuk percakapan daripada pembicaraan itu sendiri. Pengabaian di dalam proses ini dipandang sebagai alasan dan motivasi internal untuk bertindak. Ketiga, pekerjaan etnometodologi mengabaikan hubungannya dengan struktu sosial yang lebih besar. Dalam hal ini etnometodolog memberikan harapan bahwa telah ada ide-ide untuk mengintegrasikan etnometodologi ke dalam struktur teori yang lebih umum. Telah ada relevansi penemuan-penemuan etnometodologi dengan struktur yang lebih makro, meskipun hal ini diragukan oleh banyak kalangan.

Keempat, etnometodologi telah kehilangan pandangan reflektivitas radikalnya. Hal ini diakibatkan karena dalam perkembangannya etnometodologi telah diterima sebagai mainstream oleh kalangan sosiolog. Kelima, etnometodologi menjurus pada pengetahuan yang ajaib. Etnometodologi dianggap memuat aliran pemikiran yang meniadakan hukum dasar yang berlaku secara universal. Sikap pendekatan etnometodologi untuk menerima metoda yang digunakan oleh orang yang sedang diteliti ketimbang menerapkan metoda universal yang biasa digunakan dianggap sebagai cara berpikir baru.

6. Pendekatan Etnometodologi dalam Kajian Riset Akuntansi

Meskipun pendekatan etnometodologi baru disadari oleh profesi-profesi lain setelah akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, namun dewasa ini kajian etnometodologi sudah memiliki ragam yang berbeda. Sehingga muncul banyak jenis kajian lanjutan sesuai dengan disiplin ilmu tertentu. Ritzer (2003: 357) menyebutkan sejumlah variasi kajian etnometodologi yang salah satunya adalah studi etnometodologi berlatar belakang analisis institusional. Studi etnometodologi berkembang untuk mempelajari praktik-praktik keseharian dalam setting institusional yang lebih luas, seperti di perusahaan, pengadilan, klinik medis, kantor polisi, dan kantor akuntan publik.

Jarvis et al. (1995) melakukan penelitian terhadap perusahaan kecil yang dimiliki secara pribadi. Tulisan ini menggali gagasan best practice dalam konteks akuntansi keuangan dan pertanyaan apakah praktik semacam itu sesuai dengan perusahaan kecil. Sebuah metodologi penelitian alternatif kemudian diperkenalkan yang akan memberikan pengetahuan yang sangat dalam tentang bagaimana para pemilik membuat catatan akuntansi. Mereka menamakan sebuah model yang disebut ethnoaccounting untuk menangkap realitas bisnis tersebut dan dengan demikian diperoleh praktik yang berguna secara aktual dan bagaimana praktik tersebut dapat digunakan oleh perusahan kecil.

Penelitian Jervis et al. menekankan pada pemahaman yang mendalam bagaimana proses pembuatan keputusan individu dan sosial serta akuntansi keuangan yang menghasilkan keputusan yang sempurna dan kompleks dalam suatu ketidakpastian. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa para pemilik lebih banyak menggunakan judgement disamping standar akuntansi yang ada.

Contoh penelitian dengan latar belakang analisis institusional adalah Granlund (2003: 208 – 243) yang melakukan studi dengan setting longitudinal case study pada perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi. Penelitiannya dilakukan dengan menganalisis proses setelah merger dan akuisisi pada dua perusahaan yang sama besar-nya tapi dengan budaya dan sistem akuntansi manajemen yang berbeda. Penelitian Granlud menguji apakah pranata sosial yang baru berupa sistem dan prosedur akuntansi manajemen dapat berkembang setelah akuisisi?. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa perilaku individu sangat berperan penting dan krusial dalam proses tersebut. Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa faktor eksternal diluar aktor seperti tujuan yang ambigu, konflik budaya, dan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan tidak mempengaruhi proses pembentukan pranata baru tersebut.

Di Indonesia, salah satu penelitian akuntansi yang secara eksplisit menggunakan pendekan etnometodologi adalah penelitian Ludigdo (2006). Penelitiannya mengguna-kan setting institusi kantor akuntan publik dalam bidang kajian praktik etika. Pendekatan etnometodologi digunakan dengan maksud untuk memahami dan menganalisis praktik etika yang merupakan proses yang biasa terjadi (keseharian) dan digunakan oleh organisasi maupun individu anggotanya. Pemahaman dan analisis yang dimaksudkan di atas mendasarkan pada situasi yang terjadi dalam konteks sehari-hari di organisasi tersebut sebagai suatu realitas sosial (Ludigdo 2006).

Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa praktik organisasi dalam banyak hal tidak berlangsung berdasarkan dokumen, prosedur, ataupun basis formal organisasi lainnya. Sementara pengamatannya terhadap pimpinan KAP secara individual ternyata memiliki daya ubah yang kuat terhadap organisasi. Hal ini karena pandangan hidup dalam menjalankan pekerjaan secara profesional tidak semata-mata mengutamakan orientasi pencapaian kekayaan yang bersifat materi yang kemudian ditularkan kepada para stafnya.

Pemahaman yang mendalam terhadap etnometodologi akan sangat memberikan inspirasi yang cerdas bagi peneliti maupun praktisi bisnis. Kita harus membuka nurani lebar-lebar bahwa di sekitar kita ada liyaning liyan (the others) yang sangat perperan membentuk struktur sosial (praktik bisnis) di samping peraturan-peraturan yang berlaku. Saatnya melakukan dekonstruksi terhadap ’simbolsentris’, memasukkan dan mensejajarkan sing liyan dengan simbol-simbol (peraturan) tersebut.

Ludigdo (2006) telah membuktikan bahwa ada the others dalam diri etika akuntan publik di samping kode etik yang baku, yakni berupa pandangan hidup spritual seorang pemimpin. Jauh sebelum Ludigdo, Jarvis et al. (1995) telah melakukan dekonstruksi terhadap prinsip akuntansi yang berterima umum, dan mensejajarkannya dengan judgement dari pemilik dalam pencatatan akuntansi sehingga muncul konsep etnoaccounting.

Kajian di bidang akuntansi masih sangat luas, contoh lain misalnya adalah dalam penyusunan anggaran di sektor publik. Pemahaman yang mendalam terhadap perilaku ’aktor’ penyusun anggaran sangat mungkin memunculkan banyak the others yang melingkupi penyusunan anggaran tersebut di samping Permendagri. Barangkali kita bisa menamakan pendekatannya dengan sebutan etnobudgeting.

7. Metoda Penelitian

Koleksi Data Empiris

Penelitian ini menggunakan metoda partisipatori dimana peneliti akan turun lapangan untuk memperoleh data empiris. Aktivitas turun lapangan dilakukan dengan wawan-cara, pengamatan dan interaksi langsung dengan informan. Unit analisis penelitian ini adalah pedagang yang memiliki trah Mangkunegaran, dan pedagang yang tidak memiliki keterkaitan dengan trah tersebut. Aktivitas turun lapangan dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana praktik akuntansi dijalankan terutama pada saat mengelola transaksi, dan melakukan kegiatan klerikal

Penetapan Informan

Penelitian ini akan menggunakan informan pemilik usaha trah Mangkunegaran dan pemilik usaha biasa sebagai subyek yang lebih dekat dengan peneliti. Peneliti terlebih dahulu mengenal pribadi pemilik usaha secara personal. Penggunaan kriteria ini untuk menghilangkan kecurigaan informan atas apa yang diamati oleh peneliti.

REFERENSI

Budiman. 1993. Lubang Hitam Kebudayaan. Jogyakarta: Pustaka Kanisius

Burrel, G. dan G. Morgan. 1993. Sociological Paradigms and Organizational Analysis. New York: Ashgate Publishing Company.

Coulon, Alain. 2008. Etnometodologi. Jakarta: Penerbit Lengge bersama Kelompok Kajian Studi Kultural. Diterjemahkan dari L’ethnometodologie. Paris: Presses Universitaires de France.

Featherstone, Mike. 2001. Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Furchan, Arief. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Pertama Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.

Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Geertz, Hildred. 1983. Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti Press

Granlund, Markus. 2003. Management accounting system integration in corporate mergers: A case study. Accounting, Auditing & Accountability Journal. Vol. 16 Issue 2. page 208 -243

Gray, R., Jan B., and C. David. 2006. NGOs, civil society, and accountability: making the people accountable to capital. Accounting, Auditing, and Accountability Journal. Vol. 19 No. 3 pp 319 – 48.

Haviland, W.A. 1993. Antropologi. Edisi pertama, Jakarta: Penerbit Erlangga,.

Jarvis, Robin, J. Curran, J. Kitching and G.Lightfoot. 1995 ‘Ethno-Accounting’ in Small Firms: Some Preliminary Considerations, Occasional Paper Series. Kingston Business School, Kingston University.

Jensen, M C. and W H. Meckling. 1976. Theory of the firm managerial behavior, agency cost and capital structure. Journl of Finance and Economics 3: 305 - 360

Jong. 1976. Salah Satu Sikap Hidup Jawa Orang Jawa dalam Endraswara, Suwardi. 2006. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala

Kuntowijoyo. 1987. Tema Islam dalam Pertunjukkan Rakyat Jawa; Kajian Aspek Sosial Keagamaan dan Kesenian. Jakarta: Depdikbud-Javanologi.

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana

Koentjaraningrat. 1982. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Lash, Scott. 2004. Sosiologi PostModern. Yogyakarta: Kanisius

Ludigdo, Unti. 2006. Kerangka metodologi dalam memahami praktik etika di kantor akuntan publik. Proceeding: The 2nd Postgraduate Consortium on Accounting Brawijaya University Malang.

Manson, Stuart, S. McCartney, dan M. Sherer. 2001. Audit automation as control within audit firms. Accounting, Auditing & Accountability Journal. Volume 14 Issue 1. page 109 – 130

Marbangun, Hardjowirogo. 1995. Manusia Jawa. Jakarta: PT Toko Gunung Agung

Mulawarman, Aji Dedi. 2008. Akuntansi Syari’ah: Teori, Konsep, dan Laporan Keuangan. Jakarta: E Publishing Company.

Poloma, M. Margaret. 1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Penerbit RajaGrafindo Persada. Diterjemahkan dari Contemporary Sociological Theory. Third Edition

Prabowo, Danu Priyo. 2003. Pengaruh Islam dalam Karangan R.Ng. Ranggawarsita. Yogyakarta: Narasi

Randa, Fransiskus. 2009. Menguak praktek akuntabilitas dalam organisasi gereja katolik yang terinkulturasi budaya lokal. Seminar Proposal Disertasi Program Doktor Ilmu Akuntansi Fak. Ekonomi Universitas Brawijaya.

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Prestasi Pustaka Publisher.

Ritzer, G dan D.J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Prenada Media. Diterjemahkan dari Moder Sociological Theory. Sixth Edition.

Robert, J. And R. Scapens. 1985. Accounting systems and systems of accountability understanding accounting practices in their organizational context. Accounting, Organizations and Society. Vol. 10 No. 4, pp 443-56

Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Buku Sumber untuk Penelitian Kualitatif. Edisi Kedua. Jogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.

Sinclair, A. 1995. The chamelon of accountability: form and discourses. Accounting, Organizations and Society. Vol. 30 No. 4, pp 233 – 60

Soedarjono, Harjo. 2007. Pemikiran Religius Budaya Spiritual Penghayat Kepercayaan Kejawen. Kejawen: Jurnal Kebudayaan Jawa. Ed 3 Thn. II/September, hal 63-72.

Spradley, J.P. 1997. Metoda Etnografi. Jogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana. Diterjemahkan dari The Ethnographic Interview.

Suriasumantri, Jujun S. 2006. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Cetakan Ke 16. Jakarta: Percetakan Pustaka Sinar Harapan.

Suratno, Pardi, dan Astiyanto, H. 2009. Gusti ora Sare. Yogyakarta; Adiwacana

Suwarjono. 2005. Teori akuntansi perekayasaan pelaporan keuangan. Yogyakarta: BPFE

Kabari Bos

 

Copyright © 2009 by KABARI BOS Powered By Blogger Design by ET