Sudahkah Anda Memberi Kabar

Rabu, 27 Mei 2009

Bagaimana Cara Menentukan Angka Partisipasi Murni (APM) Pendidikan ?

Penulis :Hevi Suhendi
Inspire Indonesia

Bagi bannyak kalangan angka partispasi murni atau yang kita kenal dengan sebutan APM mungkin sudah bukan menjadi hal yang baru, meskipun demikian tidak ada salahnya ketika kita selalu mengabarkan pada semua orang khususnya bagi mereka yang sangat berkepentingan terhadap masalah pemenuhan hak memperoleh pendidikan. Dengan demikian, proses partisipasi masyarakat akan lebih bermakna dan berkualitas ketika masyarakat memiliki kapasitas yang cukup untuk turut serta dalam proses advokasi kebijakan publik. Apa pentingnya angka partisipasi itu?

Memahami angka partisipasi dalam pendidikan tentu sangat penting bagi semua pihak sebab dengan mengetahui angka partisipasi maka kita akan mengetahui sejauh mana upaya pemerataan dan perluasan akses pendidikan telah dicapai? Dengan angka partisipasi kita dapat mengetahui pada karakter atau variable apa saja, ketidakmerataan atau kesenjangan dalam memperoleh akses pendidikan itu terjadi? Bukankah ini menarik untuk dilakukan? Mengingat akhir-akhir ini desakan mengenai 20% anggaran pendidikan (APBN dan APBD) semakin menguat tentu akan menjadi menarik ketika indikator APM ini bisa dijadikan sebagai salah satu instrument untuk menilai efisiensi dan efektifitas kebijakan pendidikan di lihat dari segi akuntabilitas anggaran pendidikan. Dengan demikian kita akan mengetahui apakah anggaranpendidikan yang semakin besar berkorelasi positif terhadap pemerataan dan perluasan akses pendidikan pada berbagai jenjang pendidikan.

Sebagai salah satu indikator untuk menilai sukses tidaknya sebuah upaya pemerataan dan perluasan akses pendidikan pada berbagai jenjang pendidikan, ada baiknya kita kembali menyimak target jangka menengah Departemen pendidikan Nasional (Depdiknas) 2005-2009 dimana pemerintah bertekad setidaknya hingga tahun 2009, akan melakukan upaya-upaya sistematis dalam pemerataan dan perluasan akses pendidikan dengan jalan mempertahankan angka partisipasi murni Sekolah dasar (APM-SD) pada tingkat 94%, memperluas SMP/MTs hingga mencapai angka partisipasi kasar (APK) 97,4% atau APM 75,5% serta menurunkan angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas hingga 5%.

Apa yang dimaksud dengan APM SD 94%?, APM SMP/Mts 75,5%? Sebelum memahami makna dari besaran porsentase tersebut, ada baiknya kita mulai pemahaman kita dari memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan angka partisipasi itu? Angka partisipasi merupakan perbandingan antara siswa dan penduduk usia sekolah. Penduduk usia sekolah dasar adalah anak umur 7 s.d. 12 tahun. Penduduk usia sekolah lanjutan pertama adalah anak umur 13 s.d. 15 tahun. Penduduk usia sekolah lanjutan atas adalah remaja umur 16 s.d. 18 tahun.

Terdapat dua macam angka partisipasi: pertama, angka partisipasi kasar atau disingkat dengan (APK). Kedua, angka partisipasi murni (APM). Sementara kita simpan dulu pembahasan mengenai APK, selanjutnya masuk pada apa, bagaimana dan untuk apa APM itu? Pengertian APM adalah perbandingan antara jumlah siswa kelompok umur yang relevan dengan jumlah penduduk usia sekolah jenjang tertentu. Dengan demikian, kalau kita ambil contoh jenjang pendidikan dasar yaitu sekolah dasar (SD) maka dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa APM SD merupakan perbandingan antara jumlah siswa SD dan setara umur 7-12 tahun dan jumlah penduduk usia 7-12 tahun.

Jika pengertian APM SD = jumlah siswa SD (setara umur 7-12) dibagi jumlah penduduk usia 7-12 tahun. Ada baiknya kita langsung melihat contoh kasus penerapan APM di jenjang SD. Jika Jumlah penduduk Indonesia usia 7-12 tahun (1995) = 27.480.525, Jumlah siswa SD umur berapa saja (1995/1996) = 25.948.574, dan Jumlah siswa SD umur 7—12 tahun (1995/1996)= 21.989.493. berapakah APM SD pada tahun 1995/1996? Jadi APM SD 1995/1996 adalah 21.989.493. dibagi 27.480.525 kali 100%, dengan demikian hasilnya adalah APM SD tahun 1995/1996 adalah 80,02%.

Bagaimana makna APM SD 80,02% tersebut? Ini mengandung makna bahwa pada tahun 1995/1996 sebanyak 80,02 persen anak Indonesia umur 7 sampai 12 tahun telah memperoleh pendidikan di SD. Sisanya, sebanyak 19,98 persen dari anak umur 7 s.d. 12 tahun, belum memperoleh pendidikan SD. APM ini mengindikasikan tingkat pemerataan, dalam arti belum semua anak kelompok umur yang sesuai (yaitu 7 sampai 12 tahun) memperoleh pendidikan.
Guna mengetahui lebih jauh di daerah mana saja terjadi ketidakmerataan pendidikan? Langkah selanjutnya tinggal mencari APM daerah lainnya atau karakter lainnya yang kemudian membuat perbandingannya, dengan demikian ketidakmerataan/ kesenjangan pendidikan akan dapat dilihat.

Terakhir sebagai catatan, indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK, sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen, sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen. APM dapat menjadi lebih dari 100 persen kalau banyak siswa luar daerah masuk ke suatu daerah untuk bersekolah. Hal ini sering terjadi di kota-kota besar di mana siswa dari pinggiran kota atau perkotaan bersekolah ke kota karena fasilitas yang lebih memadai.





Kabari Bos

 

Copyright © 2009 by KABARI BOS Powered By Blogger Design by ET